Selasa, 06 Januari 2015

Nama : DODI ROY SYAHPUTRA
NPM : 33414231
Kelas : 1ID01
Tugas : Reportase

Tugas liputan softkill
Pada acara the 4th Gunadarma Choir festival 2014
The 4th Gunadarma Choir Festival merupakan salah satu ajang tahunan dari Universitas Gunadarma. Dimana ajang ini merupakan ajang perlombaan menyanyi perkelompok atau yang sering kita sebut paduan suara (padus).
GCF (Gunadarma Choir Festival)  ini merupakan salah satu ajang yang diikuti oleh beberapa Sekolah Menengah Atas yang bertakjub tingkat nasional, karena beberapa daerah diluar pulau jawa mengikuti acara ini. Adapun peserta yang ikut serta dalam Gunadarma Choir Festival 2014 ini adalah
1.      SMA NEGERI 3 SUKABUMI
2.      SMA NEGERI 49 JAKARTA
3.      SMA NEGERI 5 BANDUNG
4.       SMA NEGERI 1 BEKASI
5.      SMA NEGERI 2 DEPOK
6.      SMA NEGERI 3 DEPOK
7.      SMA NEGERI 4 DEPOK
8.      SMA NEGERI 1 CIBINONG
9.      SMA NEGERI 1 TANGERANG
10.  SMA SULUH JAKARTA
11.  SMA TUGU IBU
12.  SMA BINSUS TOMOHON MENADO
13.  SMA PATRA MANDIRI 1PALEMBANG
14.  SMA 62 JAKARTA
15.  SMA GLOBAL MANDIRI
Ketika saya menonton acara ini saya sedikit berbincang-bincang kepada kedua panitia yang ada dalam acara ini, yaitu saya bertanya kepada saudara Vicky dan saudari bella.

selamat pagi boleh saya sedikit berbincang bincang dengan saudara” seru saya. Boleh’’ seru Vicky. Sejak kapan acara gunadarma choir festival ini dilangsung kan untuk pertama kali? Tanya saya. Adapun acara ini dilaksana persis nya di tahun 2006 akan tetapi saya kurang begitu tau tanggal dan bulan diadakan acara tersebut!! Jawab Vicky.  
Lalu saya bertanya kembali. Berapa lamakah panitia Gunadarma Choir Festival (GCF) untuk mempersiapkan acara ini untuk dapat berlangsung sedemikian rupa yang diharapkan??. Acara Gunadarma Choir festival tersebut memang sudah sejak lama telah kami persiapkan diawal tahun 2014, tepatnya diawal Februari kita telah melakukan pembentukan panitia untuk acara tersebut, misalnya ketua panitia, sekretairs,bendahara dan setiap divisi yang diperlukan untuk acara tersebut contoh, seksi acara, humas, seksi perlengkapan dan sebagainya!! Saut wanita mungil nan indah yang sering disapa bella.
Apa yang membuat acara Gunadarma Choir Festival berbeda dengan cara 2 tahun lalu dan  ada berapa pemenang yang diambil dan penghargaan lainnya? Tanya saya. Yang yang membuat acara ini berbeda dengan 2 tahun yang lalu adalah yaitu semangat dan kerja keras para peserta yang kami himbau tidak lah seperti 2 tahun lalu dan berbeda lainnya adalah tahun ini adanya pertambahan jumlah peserta dari tahun lalu. Adapun yang panitia ambil untuk menjadi pemenang yaitu ada 5 pemenang dan yang terbaik kondaktor!! Saut bella.
Setelah selesai mewawancarai panitia yang ada saya melanjutkan untuk menonton hingga penutupan penampilan para peserta. Dan tiba lah saat waktunya yang ditunggu para peserta yaitu pengumuman yang menjadi pemenang pada acara Gunadarma Choir Festival yang diumumkan oleh para dewan juri yang handal dalam bidangnya masing-masing. Adapun yang menjadi pemenang pada acara Gunadarma Choir Festival adalah
1.      SMA NEGERI 49 JAKARTA
2.      SMA NEGERI 3 SUKABUMI
3.      SMA NEGERI 5 BANDUNG
4.      SMA NEGERI 2 DEPOK
5.      SMA NEGERI 4 DEPOK
Dan yang menjadi kondaktor terbaik adalah dari SMA NEGERI 49 JAKARTA.
Demikian lah reportase yang saya lakukan pada acara The 4th  Gunadarma Choir Festival (GCF) 2014

TUGAS SOFTKILL TENTANG KEBUDAYAAN
KEBUDAYAAN/ADAT BATAK (ADAT DALIHAN NATOLU)
Orang Batak memang tidak bisa terlepas dari kebudayaannyasebagai orang Batak. Dan tidak hanya suku Batak saja akan tetapi juga dengan suku-suku lainnya yang ada lainnya diIndonesia bahkan didunia. Karena setiap suku mempunyai budaya/adat masing-masing merupakan sebagian dari hidup mereka. (diartikan secara positif). Setiap budaya/adat tidak bisa dipungkiri bahwa adat/kebudayaan harus terbuka kepada pembaruan-pembaruan sesuai tuntutan jaman akan tetapi khas suku tersebut tidak bias lepas.
Adat Batak kurang efisien dalam mengatur waktu, hal ini perlu mendapat perubahan tanpa mengurangi makna dan hakekat adat batak tersebut. Permasalahan adat batak semakin banyak dipergunjingkan oleh orang BATAK KRISTEN pada waktu belakangan ini. Sebagian besar dari mereka adalah pemuda/I yang menganggap bahwa adat Batak tersebut kolot “old fashioned” membosankan, dan bertele-tele. Harus diakui bahwa adat Batak itu pada mulanya tidak terlepas pada agama Batak tua. Dipakai untuk peneguhan agamaniah seseorang.
Adat Batak sering dikenal dengan istilah dalihan natolu. Adat adalah aturan yang berlaku karena kebiasaan (hasomalon) yang turun temurun. Dalihan Na Tolu adalah filosofis yang menyangkut masyarakat dan budaya batak. Dalam adat batak dikenal dengan tiga kedudukan fungsional sebagai kontruksi social yang terdiri 3 hal yang menjadi dasar bersama yaitu:
1.       Manat Mardongan Tubu (bersikap baik dengan teman semarga)
Jika kita memperhatikan kampong-kampung yang ada ditanah batak yang tepatnya Tapanuli yang masih sangat tradisional praktis dihuni oleh orang-orang yang satu marga dengan kita(dongan tubu). Karena mereka adalah teman untuk mengerjakan dan merencanankan banyak hal untuk kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu kita harus hati-hati kepada dongan tubu kita (teman satu marga kita didaerah tapanuli).
2.       Elek Marboru (menghargai wanita)
Elek Marboru merupakan nasehat supaya timbul sikap membujuk wanita/pihak boru. Jadi kita senantiasa ramah dan lemah lembut, mereka harus diperhatikan agar tidak lari dari jalannya.
3.       Somba Marhulahula: ada yang menafsirkan pemahaman ini menjadi “menyembah hul-hula, namun ini tidak tepat. Memang benar kata Somba, yang tekananya pada somberarti menyembah, akan tetapi kata Somba di sini tekananya ba yang adalah kata sifat dan berarti hormat. Sehingga Somba marhula-hula berarti hormat kepada Hula-hula. Hula-hula adalah kelompok marga istri, mulai dari istri kita, kelompok marga ibu(istri bapak), kelompok marga istri opung, dan beberapa generasi; kelompok marga istri anak, kelompok marga istri cucu, kelompok marga istri saudara dan seterusnya dari kelompok dongan tubu. Hula-hula ditengarai sebagai sumber berkat. Hulahula sebagai sumber hagabeon/keturunan. Keturunan diperoleh dari seorang istri yang berasal dari hulahula. Tanpa hulahula tidak ada istri, tanpa istri tidak ada keturunan.
Selain kita telah mengetahui inti dari adat batak itu tersebut otomatis kita mengetahui apa yang menjadi cirri khas makanan  dari adat batak yaitu saksang,arsik, manuk napinadar,dekke naniura, tanggotanggo,natinombur,itak gurgur,sambal tuktuk,tipa-tipa,mie gomak dll. Didalam adat batak kita harus mengetahui partuturan kita sendiri atau kekerabatan adat batak toba, yaitu

 Uda, Amang Uda, Bapa Uda

·         panggilan kita terhadap adik laki-laki dari ayah kita,
·         panggilan kita terhadap semarga yang urutan keturunannya setingkat dengan ayah kita tetapi ayah kita lebih tua darinya,
·         panggilan kita kepada suami dari adik perempuan ibu kita.
Inang Uda, Nanguda
·         panggilan kita terhadap istri dari adik laki-laki ayah kita,
·         panggilan kita terhadap istri dari semarga kita yang urutan keturunannya setingkat dengan ayah kita tetapi ayah kita lebih tua darinya,
Amang Tua, Bapa Tua (Pak Tua)
·         panggilan kita terhadap Saudara laki-laki yang lebih tua dari ayah kita,
·         panggilan kita terhadap semarga yang urutan keturunannya setingkat dengan ayah kita tetapi ayah kita lebih muda darinya,
·         panggilan kita kepada suami dari kakak perempuan ibu kita.
Inang Tua, Nantua (Mak tua)
·         panggilan kita terhadap istri dari Saudara laki-laki yang lebih tua dari ayah kita,
·         panggilan kita terhadap istri dari orang semarga yang urutan keturunannya setingkat dengan ayah kita tetapi ayah kita lebih muda darinya,
·         panggilan kita kepada kakak perempuan ibu kita.
Tulang (Paman)
·         panggilan kita kepada saudara laki-laki ibu kita.
Nantulang (bibi)
·         panggilan kita terhadap istri dari tulang kita.
Lae
·         panggilan kita (laki-laki) kepada anak laki-laki dari tulang kita,
·         panggilan kita (laki-laki) kepada suami dari saudari kita yang perempuan.
Eda
·         panggilan kita (perempuan) kepada anak perempuan dari tulang kita,
·         panggilan kita (perempuan) kepada istri dari saudara kita yang laki-laki.
Amangboru
·         panggilan kita terhadap suami dari saudari ayah kita perempuan,
·         panggilan terhadap suami dari perempuan yang merupakan keturunan semarga kita yang urutannya setingkat dengan ayah kita.
Namboru
·         panggilan kita terhadap saudara perempuan ayah kita,
·         panggilan terhadap perempuan yang merupakan keturunan semarga kita yang urutannya setingkat dengan ayah kita.
Ito, iboto
·         panggilan kita sebagai laki-laki kepada saudari kita (perempuan),
·         panggilan kita sebagai perempuan kepada saudara kita yang laki-laki,
·         panggilan umum bagi orang kepada lawan jenisnya dalam budaya batak toba.
Pariban
·         panggilan kita sebagai laki-laki terhadap anak perempuan dari tulang kita,
·         panggilan kita sebagai perempuan terhadap anak laki-laki dari Namboru kita.
Inang (ibu)
·         panggilan kita terhadap perempuan yang lebih tua dari kita atau kepada orang (perempuan) yang
dituai,
·         panggilan umum untuk menghormati semua perempuan.
Amang
·         panggilan kita terhadap pria yang lebih tua dari kita atau orang (pria) yang dituai,
·         panggilan umum untuk menghormati para pria.
Inong (ibunda)
·         panggilan khusus kepada ibunda kita.
Among (Ayahanda)
·         panggilan khusus kepada ayahanda kita.
Ompung (Kakek/Nenek)
·         dibaca Oppung
·         panggilan kepada kakek/nenek kandung kita.
·         panggilan kepada anak Tulang (Paman) Kita.
·         panggilan umum kepada orang tua yang setingkat dengan kakek/nenek kandung kita.
Ompung Doli (Kakek)
·         dibaca Oppung Doli
·         panggilan khusus kepada kakek kita, ayah dari ayah/ibu kita
Ompung Boru (Nenek)
·         dibaca Oppung Boru
·         panggilan khusus kepada nenek kita, ibu dari ayah/ibu kita
(SUMBER DARI ORANGTUA DAN WIKIPEDIA INDONESIA)

TUGAS KEBUDAYAAN KEDUA
Suku Nias
Tari Perang diperagakan di halaman tengah pedesaan tradisional. Foto koleksi Tropenmuseum, Amsterdam
Suku Nias adalah kelompok masyarakat yang hidup dipulau nias. Dalam bahasa aslinya, orang Nias menamakan diri mereka "Ono Niha" (Ono = anak/keturunan; Niha = manusia) dan pulau Nias sebagai "Tanö Niha" (Tanö = tanah).
Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan yang masih tinggi. Hukum adat Nias secara umum disebut fondrakö yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik dibuktikan oleh peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di wilayah pedalaman pulau ini sampai sekarang. Kasta : Suku Nias mengenal sistem kasta(12 tingkatan Kasta). Dimana tingkatan kasta yang tertinggi adalah "Balugu". Untuk mencapai tingkatan ini seseorang harus mampu melakukan pesta besar dengan mengundang ribuan orang dan menyembelih ribuan ekor ternak babi selama berhari-hari.
Asal Usul
Mitologi
Tari Perang
Menurut masyarakat Nias, salah satu mitos asal usul suku Nias berasal dari sebuah pohon kehidupan yang disebut "Sigaru Tora`a" yang terletak di sebuah tempat yang bernama "Tetehöli Ana'a". Menurut mitos tersebut di atas mengatakan kedatangan manusia pertama ke Pulau Nias dimulai pada zaman Raja Sirao yang memiliki 9 orang Putra yang disuruh keluar dari Tetehöli Ana'a karena memperebutkan Takhta Sirao. Ke 9 Putra itulah yang dianggap menjadi orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Nias.
Penelitian Arkeologi
Penelitian Arkeologi telah dilakukan di Pulau Nias sejak tahun 1999 [1], [2]. Penelitian ini menemukan bahwa sudah ada manusia di Pulau Nias sejak 12.000 tahun silam yang bermigrasi dari daratan Asia ke Pulau Nias pada masa paleolitik, bahkan ada indikasi sejak 30.000 tahun lampau kata Prof. Harry Truman Simanjuntak dari Puslitbang Arkeologi Nasional dan LIPI Jakarta. Pada masa itu hanya budaya Hoabinh, Vietnam yang sama dengan budaya yang ada di Pulau Nias, sehingga diduga kalau asal usul Suku Nias berasal dari daratan Asia di sebuah daerah yang kini menjadi negara yang disebut Vietnam.
Penelitian genetika terbaru menemukan, masyarakat Nias, Sumatera Utara, berasal dari rumpun bangsa Austronesia. Nenek moyang orang Nias diperkirakan datang dari Taiwan melalui jalur Filipina 4.000-5.000 tahun lalu [3], [4].
Mannis van Oven, mahasiswa doktoral dari Department of Forensic Molecular Biology, Erasmus MC-University Medical Center Rotterdam, memaparkan hasil temuannya di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Jakarta, Senin (15/4/2013). Dalam penelitian yang telah berlangsung sekitar 10 tahun ini [5], [6] Oven dan anggota timnya meneliti 440 contoh darah warga di 11 desa di Pulau Nias.
”Dari semua populasi yang kami teliti, kromosom-Y dan mitokondria-DNA orang Nias sangat mirip dengan masyarakat Taiwan dan Filipina,” katanya.
Kromosom-Y adalah pembawa sifat laki-laki. Manusia laki-laki mempunyai kromosom XY, sedangkan perempuan XX. Mitokondria-DNA (mtDNA) diwariskan dari kromosom ibu.
Penelitian ini juga menemukan, dalam genetika orang Nias saat ini tidak ada lagi jejak dari masyarakat Nias kuno yang sisa peninggalannya ditemukan di Goa Togi Ndrawa, Nias Tengah. Penelitian arkeologi terhadap alat-alat batu yang ditemukan menunjukkan, manusia yang menempati goa tersebut berasal dari masa 12.000 tahun lalu.
”Keragaman genetika masyarakat Nias sangat rendah dibandingkan dengan populasi masyarakat lain, khususnya dari kromosom-Y. Hal ini mengindikasikan pernah terjadinya bottleneck (kemacetan) populasi dalam sejarah masa lalu Nias,” katanya.
Studi ini juga menemukan, masyarakat Nias tidak memiliki kaitan genetik dengan masyarakat di Kepulauan Andaman-Nikobar di Samudra Hindia yang secara geografis bertetangga.
Jejak terputus
Menanggapi temuan itu, arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Sony Wibisono mengatakan, teori tentang asal usul masyarakat Nusantara dari Taiwan sebenarnya sudah lama disampaikan, misalnya oleh Peter Bellwood (2000). Teori Bellwood didasarkan pada kesamaan bentuk gerabah.
”Masalahnya, apakah migrasi itu bersifat searah dari Taiwan ke Nusantara, termasuk ke Nias, atau sebaliknya juga terjadi?” katanya. Sony mempertanyakan bagaimana migrasi Austronesia dari Taiwan ke Nias itu terjadi.
Herawati Sudoyo, Deputi Direktur Lembaga Eijkman yang juga menjadi pembicara, mengatakan, migrasi Austronesia ke Nusantara masih menjadi teka-teki. ”Logikanya, dari Filipina mereka ke Kalimantan dan Sulawesi. Tetapi, sampai saat ini data genetika dari Kalimantan dan Sulawesi masih minim. Masih ada missing link,” katanya.
Di Kalimantan, menurut Hera, yang diteliti genetikanya baru etnis Banjar. Hasilnya menunjukkan, mereka masyarakat Melayu. Di Sulawesi yang diteliti baru Sulawesi Selatan. ”Masih banyak studi yang harus dilakukan,” katanya.
Marga Nias
Suku Nias menerapkan sistem marga mengikuti garis ayah (patrilineal). Marga-marga umumnya berasal dari kampung-kampung pemukiman yang ada.seperti BATEE(kamar) dan NDRAHA(akar) OZUI FANOLO BATE'E DAN ERNA TRISNAWATI NDRAHA sebagai leluhur nias
Khas Nias
Makanan Khas
·         Bae - Bae
·         Gowi Nihandro (Gowi Nitutu ; Ubi tumbuk)
·         Harinake (daging babi cincang dengan cacahan yang tipis dan kecil-kecil)
·         Godo-godo (ubi / singkong yang diparut, dibentuk bulat-bulat kemudian direbus setelah matang di taburi dengan kelapa yang sudah di parut)
·         Köfö-köfö(daging ikan yang dihancurkan, dibentuk bulat dan dijemur/dikeringkan/diasap)
·         Ni'owuru (daging babi yang sengaja diasinkan agar bisa bertahan lama)
·         Ratigae (pisang goreng)
·         Tamböyö (ketupat)
·         löma (beras ketan yang dimasak dengan menggunakan buku bambu)
·         Gae nibogö (pisang bakar)
·         Kazimone (terbuat dari sagu)
·         Wawayasö (nasi pulut)
·         Gulo-Gulo Farö (manisan dari hasil sulingan santan kelapa)
·         Bato (daging kepiting yang dipadatkan dalam bentuk bulat agar dapat bertahan lama; terdapat di Kepulauan Hinako)
·         Nami (telur kepiting dapat berupa nami segar atau yang telah diasinkan agar awet, dapat bertahan hingga berbulan-bulan tergantung kadar garam yang ditambahkan)
Peralatan Rumah Tangga di Nias
·         Bowoa tanö - periuk dari tanah liat, alat masak tradisional
·         Figa lae - daun pisang yang dipakai untuk menjadi alas makanan
·         Halu (alat menumbuk padi) - dfsf
·         Lösu - lesung
·         Gala - dari kayu seperti talam
·         Sole mbanio - tempat minum dari tempurung
·         Katidi - anyaman dari bambu
·         Niru (Alat untuk menapik beras untuk memisahkan dedak)
·         Haru - sendok nasi
·         Famofu - alat niup api untuk memasak
·         Fogao Banio (alat pemarut kelapa)
Amaedola Nias
·         Hulö harita, olifu ia gulinia (Bagaikan kacang lupa akan kulitnya) Artinya : Perumpamaan kepada seseorang yang melupakan asal-usulnya atau yang melupakan seseorang yang telah berbuat baik kepadanya.
·         Böi bunu gulö fasalatö (Jangan membunuh ular setengah-setengah jikalau masih hidup ular itu akan mematokmu kembali) Artinya: Hendaknya dalam melakukan sesuatu hal harusnya sampai tuntas agar tidak menjadi bumerang nantinya.
·         Hulö ni femanga mao, ihene zinga (Bagaikan kucing yang sedang makan di mulai dari pinggiran) Artinya: Dalam melakukan sesuatu hal, di mulai dengan hal yang mudah ke yang sulit.
·         Hulö la'ewa nidanö ba ifuli fahalö-halö (Bagaikan air di potong-potong tetap bersatu kembali) Artinya: Sesuatu yang tidak bisa untuk di pisahkan.
·         Abakha zokho safuria moroi ba zi oföna (Lebih dalam luka terakhir dari pada luka yang pertama) Artinya: Sesuatu tindakan akan sangat terasa pada akhirnya.
Minuman
·         Tuo nifarö (tuak) adalah minuman yang berasal dari air sadapan pohon nira (dalam bahasa Nias "Pohon Nira" = "töla nakhe" dan pohon kelapa (dalam bahasa Nias "Pohon Kelapa" = "töla nohi") yang telah diolah dengan cara penyulingan. Umumnya Tuo nifarö mempunyai beberapa tingkatan (bisa sampai 3 (tiga) tingkatan kadar alkohol). Dimana Tuo nifarö No. 1 bisa mencapai kadar alkohol 43%.
·         Tuo mbanua / Sataha (minuman tuak mentah yang berasal dari air sadapan pohon kelapa atau pohon nira yang telah diberi 'laru' berupa akar-akar tumbuhan tertentu untuk memberikan kadar alkohol)
Akses Ke Nias
Udara
Jarak tempuh menuju Kepulauan Nias berkisar 45 menit dari bandara udara internasional kualanamu(Medan) Bandar udara Binaka dengan harga tiket antara Rp 400.000 s/d Rp 700.000.
Darat
·         Dari Kota Medan menuju Kota Sibolga berkisar 10 jam dengan mengendarai Jasa Angkutan Darat seperti Taxi, Mini Bus dll harga tiket sekitar Rp 120.000
·         Dari Kota Medan menuju Kota Pelabuhan Aceh Singkil berkisar 8 jam dengan mengendarai Jasa Angkutan Darat seperti Taxi, Mini Bus dll harga tiket sekitar Rp 120.000
Laut
·         Sesampainya di Pelabuhan Sibolga, perjalanan laut menuju Pelabuhan Gunungsitoli dapat memakan waktu 10 jam dengan menggunakan Kapal Penyeberangan dengan harga tiket sekitar Rp 80.000 s/d Rp 130.00. Kapal ini beroperasi setiap hari dengan jadwal keberangkatan Malam dan sampai di Gunungsitoli pagi hari.
·         Dari Pelabuhan Aceh Singkil dapat menyeberang dengan menggunakan kapal penumpang yang beroperasi 2 kali seminggu yaitu hari Selasa dan Kamis.
Budaya Nias
Fahombo (Lompat Batu)
·         fahombo(Lompat Batu)
·         Fataele/Foluaya(Tari Perang)
·         Maena (Tari berkoelompok)
·         Tari Moyo (Tari Elang)
·         Tari Mogaele
·         Fangowai (Tari sekapur sirih/penyambutan tamu)
·         Fame Ono nihalõ (Pernikahan)
·         Omo Hada (Rumah Adat)
·         Fame'e Tõi Nono Nihalõ (Pemberian nama bagi perempuan yang sudah menikah)
·         Fasösö Lewuö (Menggunakan adu bambu untuk menguji kekuatan pemuda Nias)
Dalam budaya Ono Niha (Nias) terdapat cita-cita atau tujuan rohani hidup bersama yang termakna dalam salam “Ya’ahowu” (dalam terjemahan bebas bahasa Indonesia “semoga diberkati”). Dari arti Ya’ahowu tersebut terkandung makna: memperhatikan kebahagiaan orang lain dan diharapkan diberkati oleh Yang Lebih Kuasa. Dengan kata lain Ya’ahowu menampilkan sikap-sikap: perhatian, tanggungjawab, rasa hormat, dan pengetahuan. Jika seseorang bersikap demikian, berarti orang tersebut memperhatikan perkembangan dan kebahagiaan orang lain : tidak hanya menonton, tanggap, dan bertanggungjawab akan kebutuhan orang lain (yang diucapkan : Selamat – Ya’ahowu), termasuk yang tidak terungkap, serta menghormatinya sebagai sesama manusia sebagaimana adanya. Jadi makna yang terkandung dalam “Ya’ahowu” tidak lain adalah persaudaraan (dalam damai) yang sungguh dibutuhkan sebagai wahana kebersamaan dalam pembangunan untuk pengembangan hidup bersama.

Galeri
·        
Pejuang Nias.

·        
Omo Sebua, Rumah khas Nias.

·        
Pengantin Nias.

·        
Patung leluhur Nias.

·        
Sekelompok pemburu kepala Nias menyerah kepada Belanda.

·        
Keluarga Nias.

·        
Tempat persembahan Nias.

TUGAS PUISI SOFTKILL


PUISI
DALAM DOA KU ADA KERINDUAN
Hening menabur lamunan
Angin terbang begitu bebasnya
Jarak menoreh kerinduan
Betapa dalamnya rindu ini
Terbayang wajah mereka dibenak ku
Terlintas semua nasehat semasa kecil ku dulu
Ibu,Ayah
Aku merindukanmu
Merindukan setiap nasehat yng diberikan
Rindu pelukan hangatan mu
Ibu,ayah
Ku genggam kerinduan ini dalam doa
Ibu,Ayah
Kelak nanti anakmu akan pulang
Pulang membawa kesuksesan yang selama ini diimpikan
Dan anak mu yang tengah jauh ini
Akan menorah kebanggan
Ibu,Ayah
Kelak kesedihan mu akan terbayar dengan senyuman manis mu
 
PIALA
Begitu banyak orang yang mendambakanmu
Begitu banyak pula orang yang ingin menggenggam mu
Yang menaruh harapan pada mu
Butuh kerja keras
Latihan tekun dan pengorbanan waktu
Serta doa untuk mendapatkan mu
Ada bahagia ketika orang mendapatkan mu
Yang dapat menggenggam dirimu
Dan tak sedikit pula orang merasa kesedihan
Ketika tak dapat menggenggam mu
Ada tetasan air mata bahagia
Dan tak lupa ada tetesan air mata kesedihan
Akankah ketika orang mendapatkan mu
Menjadi sukses seperti apa yang mereka harapkan serta impikan
Tidak!! Tidak!! Semua tidak ditentukan oleh mu
Perjuangan dan kerja keras serta proses
 yang menentukan seseorang sukses
 dan tak lupa doa yang dipanjatkan

TUGAS SOFTKILL PANTUN
PANTUN
Jangan menulis diatas kursi
Tetapi menulis lah di atas meja
Jangan menangis Karena sakit Hati
Tetapi menangislah karena dosa

Makan pizza berisikan keju
Kalau hendak memakan ditaruh ditampan
Jikalau anak bangsa ingin pendidikan maju
Janganlah korupsikan dana pendidikan

Pergi kepasar beli buah mangga
Belinya dipasar ciputat
Hendaklah menyesali dosa
Sebelum terlambat waktunya